Klinik Hati Prof Ali Sulaiman Klinik Hati Office

GASTROENTEROLOGY | GASTROINTESTINAL ENDOSCOPY | HEPATOLOGY

    Home    |     About Us  |    Contact Us     layanan_klinik_hati   |  Fasilitas Klinik Hati    Jadwal Praktek Dokter   Registrasi Pasien  |   Kegiatan Klinik Hati
Welcome to liver clinic Prof. Ali Sulaiman
 

Hepatitis B   (continue..)

(Epidemiologi, Transmisi, dan Patogenesis)

By Prof. Dr.H. Ali Sulaiman, Ph.D, SpPD-KGEH

 

 Hal. 2

(Red. Klinik Hati)    

Transmisi Horisontal

Anak dapat terinfeksi HBV melalui transmisi horisontal dari perlukaan kecil di kulit, membran mukus, atau kontak dengan anak lainnya. HBV dapat hidup di luar tubuh manusia untuk waktu yang lama. Akibatnya, transmisi dimungkinkan melalui kontak peralatan rumah tangga seperti sikat gigi, alat cukur, hingga mainan. Walaupun DNA-HBV dapat dideteksi di berbagai sekret tubuh pada karier hepatitis B, namun belum ada bukti bahwa HBV dapat ditransmisikan melalui cairan tubuh selain darah.

 

Transfusi

Darah yang didonorkan secara rutin diperiksa HBsAg-nya,  sehingga insidens hepatitis B akibat transfusi menurun secara signifikan. Risiko tertular hepatitis B karena transfusi tergantung pada berbagai faktor, misalnya prevalensi dan strategi tes donor. Pada daerah dengan prevalensi rendah, diperkirakan kejadian hepatitis B sekitar 1-4  per satu juta darah yang ditransfusikan. Pada daerah dengan prevalensi tinggi, diperkirakan jumlahnya lebih tinggi, yaitu sekitar 1 per 20.000 darah.

 

Terdapat perbedaan strategi dalam skrining donor. Kebanyakan negara menggunakan skrining HBsAg untuk donor. Negara yang lain, misalnya Amerika Serikat, menggunakan HBsAg dan anti-HBc. Skrining rutin anti-HBc masih kontroversial karena spesifisitasnya rendah dan pasien dengan hepatitis yang sudah sembuh harus dieksklusi. Skrining sampel darah dapat dikembangkan dengan teknik amplifikasi asam nukleat. Akan tetapi,  debat yang berkelanjutan mengenai reduksi risiko yang relatif rendah dan biaya terus berlangsung.

 

Infeksi Nosokomial

Infeksi nosokomial dapat terjadi dari pasien ke pasien dan dari pasien ke pekerja kesehatan atau sebaliknya. HBV diperkirakan merupakan virus yang paling sering ditransmisikan melalui darah pada layanan kesehatan.

 

Pada umumnya, infeksi nosokomial hepatitis B seharusnya dapat dicegah. Walaupun terdapat strategi pencegahan infeksi nosokomial, beberapa kasus tetap terjadi dan didokumentasikan dengan baik . Hingga saat ini, risiko infeksi nosokomial yang pasti masih belum diketahui. Jumlah pasien yang terinfeksi yang dilampirkan pada literatur dapat lebih rendah dibanding jumlah sebenarnya karena banyak pasien yang terinfeksi bersifat asimptomatik dan hanya pada sebagian pasien yang terpajan saja yang dilakukan tes.

 

Strategi untuk mencegah transmisi nosokomial hepatitis B adalah penggunaan jarum suntik sekali pakai, sterilisasi perlengkapan bedah, pengukuran kontrol infeksi, dan vaksinasi pekerja kesehatan. Karena implementasi rutin vaksinasi pada pekerja kesehatan, insidens infeksi HBV pada kelompok ini lebih rendah dibanding populasi umum. Oleh karena itu, jarang terjadi transmisi infeksi dari pekerja kesehatan ke pasien, sedangkan risiko transmisi dari pasien HBV positif ke pekerja kesehatan lebih besar.

 

Pekerja kesehatan yang positif hepatitis B tidak langsung dilarang bekerja. Individu tersebut akan dievaluasi untuk dilakukan pengukuran. Pekerja kesehatan dengan HBeAg negatif biasanya tidak infektif, sedangkan pekerja kesehatan dengan HBeAg positif harus diwajibkan melakukan beberapa hal, seperti menggunakan sarung tangan ganda dan tidak melakukan berbagai aktivitas yang berisiko. Akan tetapi, terdapat kasus transmisi hepatitis B dari dokter bedah dengan HBsAg positif dan HBeAg negatif ke pasien Virus hepatitis B diidentifikasi memiliki mutasi precore stop codon yang menyebabkan tidak terekspresinya HBeAg walaupun masih terdapat replikasi aktif HBV. Oleh karena itu, uji DNA-HBV diimplementasikan dengan berbagai pengaturan, walaupun mungkin tidak dapat diandalkan dalam semua situasi karena kadar DNA-HBV yang berfluktuasi. Pada sebagian besar negara berkembang, panduan untuk pekerja kesehatan yang positif hepatitis B telah ditetapkan dan seharusnya diaplikasikan.

 

Profilaksis Setelah Terpajan

Pada kasus pajanan HBV dalam keadaan yang telah disebutkan di atas, profilaksis setelah terpajan direkomendasikan pada semua orang yang tidak divaksinasi. Imunisasi pasif-aktif direkomendasikan dalam hal ini. Dosis pertama imunisasi aktif seharusnya diberikan sesegera mungkin. 12 jam setelah terpajan, diperkirakan merupakan waktu terakhir yang efektif untuk profilaksis. Satu dosis imunoglobulin hepatitis B (HBIG) seharusnya diberikan pada waktu yang sama, jika sumbernya diketahui HBsAg positif. Dua dosis vaksin lainnya diberikan sesuai jadwal biasa.

 

Individu yang sudah divaksinasi dengan respons positif tidak memerlukan profilaksis setelah terpajan. Individu yang tidak mendapat uji pascavaksinasi seharusnya dites untuk titer anti-HBs sesegera mungkin. Jika hal ini tidak memungkinkan, atau titer anti-HBs tidak cukup (<100 IE/1), dibutuhkan vaksinasi kedua.

 

Individu yang terbukti tidak memberikan respons akan mendapat 2 dosis HBIG yang diberikan dengan interval 1 bulan.

  

 

Perjalanan Penyakit dan Manifesitasi Klinis

Manifestasi klinis infeksi HBV bervariasi dalam fase akut dan kronik. Manifestasi selama fase akut bervariasi, dapat berupa hepatitis subklinis atau nonikterik, lalu menjadi hepatitis ikterik, dan pada beberapa kasus bisa menjadi hepatitis fulminan. Selama fase kronik, manifestasi bervariasi, dimulai dari karier asimptomatik hingga hepatitis kronik, sirosis, dan karsinoma selulerhepatoseluler. Manifestasi ekstrahepatik dapat terjadi pada fase infeksi akut dan kronik.

 

Hepatitis Akut

Setelah transmisi HBV, periode inkubasi berlangsung selama 1-4 bulan. Fase prodromal dapat muncul sebelum hepatitis akut berkembang.  Selama periode ini, sindrom seperti serum sickness dapat berkembang. Manifestasi sindrom ini adalah demam, ruam kulit, artralgia, dan artritis, yang biasanya berhenti sesuai dengan awitan hepatitis. Setidaknya 70% pasien akan mendapat hepatitis subklinis atau nonikterik, sementara kurang dari 30% akan berkembang menjadi hepatitis ikterik. Manifestasi klinis hepatitis yang paling menonjol adalah rasa tidak nyaman pada kuadran kanan atas, nausea, ikterik, dan gejala konstusional tidak spesifik lainnya. Pada kasus koinfeksi dengan virus hepatitis lainnya atau penyakit hati sebelumnya, manifestasi klinis dapat menjadi lebih berat.

 

Gejala-gejala yang ada, termasuk ikterik, secara umum menghilang setelah 1-3 bulan, namun beberapa pasien mengalami lelah menetap bahkan setelah normalisasi konsentrasi aminotransferase serum. Konsentrasi alanin dan aspartat aminotransferase (ALT dan AST) dapat meningkat menjadi 1000-2000 IU/L pada fase akut. ALT biasanya lebih tinggi daripada AST. Konsentrasi bilirubin mungkin normal pada sebagian pasien. Pada pasien yang mengalami pemulihan, normalisasi aminotransferase serum biasanya terjadi dalam 1-4 bulan. Kelainan ALT serum yang persisten untuk lebih dari 6 bulan mengindikasikan progresivitas ke arah ke hepatitis kronik.

 

Laju progresi dari hepatitis B akut ke kronik secara primer ditentukan oleh umur saat infeksi (Ganem, 2004; McMahon, 1985). Pada infeksi yang didapat saat dewasa, laju kronisitas adalah sebesar 5% atau kurang, dan lebih tinggi jika infeksi didapat pada usia yang lebih muda. Diperkirakan sekitar 90% infeksi didapat saat perinatal, dan 20-50% kasus didapat pada usia 1-5 tahun.

Selama ini, pasien yang sembuh dari hepatitis B akut dianggap benar-benar tidak memiliki virus dalam tubuhnya. Akan tetapi, saat ini terdapat banyak bukti bahwa bahkan pada pasien positif anti-HBs dan anti-HBc, DNA-HBV dapat bertahan untuk periode waktu yang lama dan infeksi laten itu akan mengontrol respons sel T dalam menjaga virus tetap berada di bawah kontrol (Yotsuyanagi, 1998). Eradikasi lengkap jarang terjadi sehingga keadaan imunosupresi dapat memicu reaktivasi virus, seperti transplantasi organ atau selama kemoterapi.

 

Gagal hati akibat hepatik fulminan jarang terjadi, yaitu sekitar 0,1-0,5% pasien. Alasan dan faktor risiko hepatitis B fulminan masih belum dimengerti (Garfein, 2004). Diperkirakan terdapat kolerasi dengan penyalahgunaan substansi tertentu atau koinfeksi dengan virus lainnya. Hepatitis B fulminan dipercaya terjadi karena lisis hepatosit yang terinfeksi, yang dimediasi oleh imun secara masif. Itulah sebabnya, pada banyak pasien dengan hepatitis B fulminan tidak terbukti terjadi replikasi HBV.

 

Pengobatan antiviral pada pasien dengan hepatitis B akut biasanya tidak direkomendasikan (Cornberg, 2007). Risiko terjadinya hepatitis B fulminan kurang dari 1%, dan kemungkinan progresi menjadi hepatitis B kronik kurang dari 5% pada orang dewasa. Oleh karena itu, pengobatan hepatitis B akut sebagian besar bersifat suportif pada mayoritas pasien. Pengobatan dapat dipertimbangkan pada kelompok pasien tertentu, misalnya pasien dengan hepatitis B yang lama dan berat, pasien koinfeksi dengan virus hepatitis lain atau penyakit hepar lainnya, pasien dengan supresi imun, atau pasien dengan kegagalan hepar fulminan karena transplantasi hepar (Kondili, 2004; Tillmann, 2006). Pemeriksaan apakah terdapat kontak yang dapat terpajang hepatitis B harus dilakukan.

 

Hepatitis Kronik

 

Prognosis

 

Manifestasi Ekstrahepatik

 

 

 

 

 

Google


Web Search Site Search

  Copyright 2009 |   Yayasan Klinik Hati Prof. dr. H. Ali Sulaiman, Ph.D FACG   |   All Rights Reserved